Skip to content

Meningitis

14 April 2009

Meningitis adalah infeksi pada meningen, yaitu selaput tipis yang membungkus otak dan jaringan saraf tulang belakang.  Bermacam macam bakteri, virus, dan juga protozoa bisa meyebabkan terjadinya meningitis ini.

Meningitis karena infeksi bakteri biasanya berlangsung secara akut dengan gejala-gejala seperti sakit kepala, otot leher yang kaku ( lebih dari 90% menunjukan gejala ini), rasa mual, muntah dan photophobia (sekitar 75%).

Dari Gejala awal ini bisa di ikuti oleh rasa pusing yang berat sampai terjadinya koma.

Meningitis akut bisa berlanjut tanpa disadari ke meningitis kronis dan juga  radang otak (ensefalitis). Secara klinis definisi “kronis” dalam hal ini  berarti berlangsung lebih dari 4 minggu. Meningitis kronis bisa berlangsung selama beberapa minggu sampai bulanan yang selalu di ikuti dengan peradangan otak.Terjadinya peradangan otak ( Ensefalitis) bisa di liat dari gejala pasien yang tidak berorientasi, Stupor, kejang-kejang, dan koma.

Metode untuk mengetahui kekakuan otot leher adalah bisa di uji dengan tanda kernig (kernig´s sign) atau tanda brudzinski ( brudzinski´s sign). Metode yang paling gampang buat  anak-anak  dengan cara meyuruh mencoba mencium lututnya sendiri dalam keadaan duduk.

Menguji tanda Kernig :  Pasien berbaring menghadap keatas. Salah satu paha di lekuk kearah perut/abdomen.Tanda kernig positif bila lutut di coba di luruskan dan pasien merasa kesakitan.( gambar kiri)

Menguji tanda Brudzinski : Jika pasien dalam keadaan berbaring di bungkukkan lehernya ke arah dada,  pasien akan ssecara spontan melekukkan lututnya juga ke atas.(gambar kanan)

19077

brudzinskis-sign-of-meningitis

Kuman penyebab meningitis yang paling sering adalah bakteri dan virus.

6-2Bakteri :

  • Neisseria meningitidis (Anak dan remaja),
  • Streptococcus pneumoniae ( Orang dewasa ),
  • Haemophilus influenzae (Anak di bawah 4 tahun, karena ada vaksin Hib meningitis tipe ini menjadi jarang),
  • Streptococcus agalactiae (Bayi yang baru lahir),
  • Listeria monocytogenes (Pada bayi ato dewasa dgn Umur > 50),
  • Mycobacterium tuberculosis (Tuberkulosa),
  • Borrelia burgdorferi (Neuroborreliosis).

Virus :

  • Enterovirus, terutama Virus Echo dan  Coxsacki
  • Virus penyebab benguk ( mumps virus)
  • Virus Herpes
  • HIV

Untuk diagnosa sebaiknya terlebih dahulu membedakan kuman penyebab infeksi antara bakteri, virus atau protozoa. Karena protozoa sebagai penyebab jarang terjadi ada baiknya cuma membedakan antara bakteri dan virus karena berpengaruh atas tingkat akutnya penyakit dan komplikasi yang bisa muncul.

Bacterial meningitis

Faktor predisposisi untuk jenis bakteri tertentu bisa digolongkan dalam umur pasien, dan fakto2 lainnya sbb:

  • Bayi dibawah umur < 6 minggu :  E. coli,  Streptokokkus agalactiae (streptokokkus Grup B) , Listeria monocytogenes
  • Bayi dgn umur >  6 minggu, Anak, -anak, Remaja, Dewasa : Neisseria meningitidis, Streptokokkus pneumoniae, (hemofilus influenzae).
  • Dewasa > 50 thn atau pasien yang mempunyai sakit bawaan tertentu spt diabates : Streptokokkus pneumoniae, Neisseria meningitidis, Listeria monocytogenes.
  • Post-trauma(setelah kecelakaan) , sesudah operasi, shunt : Stafilokokkus aureus, Stafilokokkus epidermidis, dan basil gram negatif lainnya.

Klinis

Pada awalnya muncul demam, sakit kepala, pening, myalgia(otot2 terasa pegal), dan muntah-muntah(sekitar30%). Setelah itu diikuti dengan kekakuan otot leher. Untuk bayi di bawah satu tahun tidak menunjukan gejala kaku otot ini jadi bisa memperlambat atau bahkan salah mengdiagnosa.

Mayoritas pasien menunjukkan tanda tanda terjadinya sepsis, yang dalam waktu singkat bisa meningkat menjadi shock anapilaktik atau edema otak. Dalam tahap ini angka letalitas meningkat menjadi 40%, sekitar 30% dari pasien yang lewat dari tahapan ini meninggalkan gangguan permanen seperti kerusakan syaraf dan penurunan inteligensi.

Prognosis

Meningitis yang disebabkan oleh neisseria lebih mudah diterapi dan bisa sembuh total tanpa meninggalkan gangguan tambahan, sementara oleh pneumokokkus atau streptokokkus grup b pada bayi lebih sulit dan ganguan yang fatal seperti kelumpujan

Diagnosis

Dalam mendiagnosa Meningitis hasil lumbal puncture (LP, pungsi lumbal) sangat menentukan. Hal ini bukan saja bisa ditentukan apakah infeksi terjadi karena bakteri atau virus tetapi juga prognosis infeksi bisa terlihat.

Hasil LP

Secara makroskopis hasil LP sedikit memberikan gambaran akan infeksi..Liquor yang keruh menunjukkan infeksi bakteri,sedangkan jernih karena virus.

Liquor                                              Bakteri                                               Virus

  • Leukosit(sel darah putih)     1000 – 5000 sel/ul                      25 – 500 sel/ul
  • Protein                                          100 – 500 mg/dl                           20 – 80 mg/dl
  • Glukosa                                         < 40 mg/dl                                      > 40 mg/dl
  • Laktat                                            >35 mg/dl                                        10 – 20 mg/dl

Jika jumlah leukosit tetap rendah ( < 20/ul ) dibanndingkan dengan jumlah bakteri, maka prognosis infeksi tergolong buruk. Dalam banyak kasus, yaitu sekitar 60 sampai 90% hasil pemeriksaan mikroskop hasil LP  sudah bisa menjelaskan/mendiagnosis penyebab meningitis. Oleh karena itu, pemeriksaan ini sangat penting di lakukan.

Selain pemeriksaan mikroskopis, hasil liquor di gunakan untuk membuat kultur bakteri. Dengan demikian bisa terdeteksi dengan jelas tipe bakteri dan pembuatan antibiogram.

Terapi

Setelah LP dan pemeriksaan di bawah mikroskop, terapi harus sesegera mungkin dilakukan karena proses keterlambatan akan semakin memperburuk keadaan pasien dan prognosisnya serta  komplikasi yang mungkin timbul semakin besar.

Pemberian antibiotik dengan spektrum luas atau kombinasi beberapa antibiotik yang bertujuan untuk mematikan hampir semua macam2 bakteri penyebab meningitis sangatlah di anjurkan. Terapi bisa berorientasi dengan umur  dan status immun pasien.

Skema terapi untuk meningitis akut sbb:

  • Generasi ke-3 Cephalosporine ( Cefotaxim atau Ceftriaxon)  +
  • Ampisilin ( karena Listeria monocytogenes resisten terhadap Cephalosporine) +
  • Aminoglikosida ( untuk menekan sintesis protein dari bakteri, dengan demikian terapi sinergis) +
  • ( Deksametason, bertujuan untuk menekan proses infeksi dan menghindari komplikasi tambahan,seperti kelumpuhan) +
  • ( Asiklovir, bila Dokter curiga meningitis di sebabkan virus herpes simplex)

Pengobatan dengan antibiotik beta laktam seperti penisilin tidak di anjurkan karena seringnya antibiotik jenis ini di resepkan sangat mempenagruhi tingkat senstifnya bakteri terhadap obat bahkan bisa terjadi resisten obat.

Dalam keadaan sehat, konsentrasi obat yang masuk ke liquor ( cairan otak dan sumsum tulang belakang) sangatlah rendah, berkisar 0,5 – 2 % dari konsentrasi obat di serum.  Pada saat terjadi infeksi terjadi peningkatan hingga 30 – 40 % , tetapi segara turun kembali setelah proses infeski berakhir. Karena itu; Setiap terapi bacterial meningitis harus diikuti dengan pengobatan antibiotik dalam dosis yang maksimal

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: